https://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/issue/feedHikmah Journal of Health2026-03-06T12:44:15+07:00Dr. Ita Rahmawati, S.Si.T., M.Kesuajepara@uajpr.ac.idOpen Journal Systems<p><strong><em>Hikmah Journal of Health</em></strong> dengan nomor registrasi ISSN 2985-5659 (Print) dan ISSN 2986-2574 (Online) merupakan jurnal ilmiah dalam bidang Kesehatan, Kebidanan, Keperawatan, Kedokteran, dan Kesehatan Masyarakat yang diterbitkan oleh LPPM Universitas Al Hikmah Jepara secara berkala 4 kali dalam satu tahun (Januari, April, Juli dan Oktober)</p>https://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/article/view/38EFEKTIVITAS REBUSAN AIR SELEDRI DENGAN BAWANG PUTIH TERHADAP TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI2025-12-20T21:24:48+07:00Roihatul Zahrohroihatulzr@gmail.comMono Pratiko Groihatulzr@gmail.comHimmatul Aliyah roihatulzr@gmail.com<p>Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dantekanan diastolic lebih dari 80 mmHg.Tekanan darah yang tinggi di dalam darah akan mengakibatkan terjadinya komplikasi gagal jantung dan stroke karena aliran darah tidak lancar maka suplai oksigen yang di bawa sel-sel darah merah menjadi terhambat. Ada 2 terapi pengobatan untuk menurunkan tekanan darah yaitu farmakologis (simpatetik) dan non farmakologis (air rebusan seledri dan bawang putih). Tujuan dari penelitian ini yaitu membandingkan efektivitas antaraair rebusan seledri dengan bawang putih terhadap tingkattekanan darah pasien hipertensi.Desain penelitian ini menggunakan <em>Quasy Eksperimental</em>. Metode sampling menggunakan <em>Pre Post Test Design</em><em>. </em>Sampel diambil sebanyak 10 responden yang di intervensi menggunakan air rebusan seledri dan 10 responden menggunakan bawang putih. Variabel independen yaitu pemberian air rebusan seledri dengan bawang putih. Variabel dependen yaitu tekanan darah. Data penelitian diambil menggunakan observasi.Hasil uji statistik <em>Mann-Whitney U Test </em>didapatkan nilai signifikansi r = 0,203sehingga H<sub>1 </sub>ditolak artinya tidak ada perbedaan penurunan tekanan darah diantara kelompok pemberian air rebusan seledri dan bawang putih. Dari hasil uji statistik <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em>intervensi air rebusan seledri didapatkan hasil signifikan (a<sub>hitung</sub>) = 0,002< 0,05 dan bawang putih didapatkan hasil signifikan (a<sub>hitung</sub>) = 0,008< 0,05. Dapat disimpulkan bahwa rebusan air seledri lebih efektif dari pada bawang putih terhadap penuruan tekanan darah pasien hipertensi.</p>2025-10-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hikmah Journal of Healthhttps://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/article/view/51GAMBARAN SIKAP ORANG TUA DALAM PEMILIHAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE) PADA ANAK UMUR 3-5 TAHUN DI DESA NGABUL2026-03-06T12:44:15+07:00Yayuk Nor Azizahyayukimut78@gmail.comRosmelia Deviauaj.lppm@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa sebagian orang tua masih kurang selektif dalam memilih alat permainan edukatif bagi anak. Banyak orang tua memilih permainan hanya berdasarkan ketertarikan atau tampilan tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan usia dan tahap perkembangan anak. Padahal pemilihan alat permainan yang tepat sangat penting untuk mendukung perkembangan anak, khususnya perkembangan motorik. Perkembangan motorik anak berkembang pesat pada usia 2–6 tahun, sedangkan motorik kasar mulai berkembang optimal pada usia 3–5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sikap orang tua dalam memilih alat permainan edukatif pada anak usia 3–5 tahun di Desa Ngabul. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh orang tua yang memiliki anak usia 3–5 tahun di Desa Ngabul sebanyak 239 responden, dengan sampel sebanyak 127 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas usia orang tua berada pada kategori dewasa awal sebanyak 56 responden (44,1%). Mayoritas tingkat pendidikan orang tua adalah pendidikan menengah sebanyak 88 responden (69,3%) dan sebagian besar orang tua tidak bekerja sebanyak 89 responden (70,1%). Sikap orang tua dalam pemilihan alat permainan edukatif pada anak usia 3–5 tahun di Desa Ngabul mayoritas berada pada kategori sesuai sebanyak 123 responden (96,9%).</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> <strong>sikap orang tua, alat permainan edukatif, anak usia dini, perkembangan motorik, pemilihan permainan</strong></p> <p>ABSTRACT</p> <p>The current phenomenon shows that many parents are still less selective in choosing educational toys for their children. Parents often select toys based on appearance or attractiveness without considering their suitability with the child's age and developmental stage. In fact, selecting appropriate educational toys is important to support children's development, particularly motor development. Children's motor development grows rapidly at the age of 2–6 years, while gross motor skills begin to develop optimally at the age of 3–5 years. This study aimed to describe parents' attitudes in selecting educational toys for children aged 3–5 years in Ngabul Village. This study used a descriptive quantitative research design. The population consisted of all parents who had children aged 3–5 years in Ngabul Village totaling 239 respondents, with a sample of 127 respondents selected using a random sampling technique. Data were collected using questionnaires and analyzed using univariate analysis with frequency distribution through SPSS. The results showed that the majority of parents were in early adulthood with 56 respondents (44.1%). Most parents had a secondary education level with 88 respondents (69.3%), and the majority of parents were unemployed with 89 respondents (70.1%). Parents' attitudes in selecting educational toys for children aged 3–5 years in Ngabul Village were mostly categorized as appropriate with 123 respondents (96.9%).</p> <p><strong>Keywords: parental attitudes, educational toys, early childhood, motor development, toy selection</strong></p>2026-02-26T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hikmah Journal of Healthhttps://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/article/view/48KARAKTERISTIK REMAJA YANG MENGALAMI PENYALAHGUNAAN NAPZA DI POLRES KABUPATEN JEPARA 2026-03-02T08:59:51+07:00Devi Rositadevirosita2508@gmail.comResty Prima Kartikauaj.lppm@gmail.com<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) merupakan permasalahan serius yang semakin meningkat di kalangan remaja Indonesia, termasuk di Kabupaten Jepara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik remaja yang mengalami penyalahgunaan NAPZA di wilayah hukum Polres Jepara sehingga dapat menjadi dasar dalam upaya pencegahan yang lebih tepat sasaran. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan data sekunder dari buku registrasi kasus NAPZA di Polres Jepara periode Januari 2022–Mei 2025. Sampel penelitian meliputi seluruh populasi sebanyak 37 remaja berusia 12–21 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penyalahguna NAPZA adalah laki-laki (78,4%), berada pada rentang usia remaja akhir 19–21 tahun (70,3%), memiliki latar belakang pendidikan dasar (64,9%), serta tidak memiliki pekerjaan (59,5%). Jenis NAPZA yang paling banyak disalahgunakan adalah sabu dengan prevalensi 83,8%. Temuan ini menegaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja berkaitan erat dengan faktor demografi dan sosial-ekonomi tertentu. Kesimpulan penelitian menunjukkan perlunya peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan penegak hukum dalam strategi pencegahan terpadu, dengan fokus pada kelompok remaja yang paling rentan.</p> <p>Kata Kunci: <strong>NAPZA, remaja, karakteristik, penyalahgunaan, Jepara</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>The abuse of narcotics, psychotropics, and other addictive substances (NAPZA) has become a serious and growing concern among Indonesian adolescents, including those in Jepara Regency. This study aimed to identify the characteristics of adolescents involved in drug abuse within the jurisdiction of Jepara Police Resort (Polres Jepara) to provide a foundation for more targeted prevention strategies. A retrospective descriptive design with a quantitative approach was employed, utilizing secondary data obtained from the NAPZA case registration book at Polres Jepara for the period of January 2022 to May 2025. The sample comprised the total population of 37 adolescents aged 12–21 years. The findings revealed that most drug abusers were male (78.4%), in late adolescence aged 19–21 years (70.3%), with a background of basic education (64.9%), and unemployed (59.5%). The most commonly abused substance was methamphetamine (sabu), with a prevalence of 83.8%. These results highlight that adolescent drug abuse is strongly associated with demographic and socioeconomic factors. The study concludes that integrated prevention efforts involving families, schools, communities, and law enforcement are urgently needed, with priority given to the most vulnerable adolescent groups.</em></p> <p><em>Keywords: <strong>NAPZA, adolescents, characteristics, substance abuse, Jepara</strong></em></p>2026-02-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hikmah Journal of Healthhttps://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/article/view/45TINGKAT RESIKO KEHAMILAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL DI PUSKESMAS TAHUNAN KABUPATEN JEPARA2026-02-28T16:30:26+07:00Ita Rahmawatirahma.safii@gmail.comDevi Rositauaj.lppm@gmail.com<h1>ABSTRAK</h1> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi, dengan AKI mencapai 4.460 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB mencapai 34.087 pada tahun 2023. Di Kabupaten Jepara sendiri, kasus kematian ibu tercatat sebanyak 14 kasus, dan AKB mencapai 3,2 kasus per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2023. Salah satu upaya untuk menurunkan angka tersebut adalah melalui deteksi dini kehamilan berisiko tinggi dengan menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dan tingkat risiko kehamilan menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati di Puskesmas Tahunan Kabupaten Jepara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas Tahunan pada bulan Juni-Juli 2025. Sampel penelitian berjumlah 63 ibu hamil yang diambil dengan teknik <em>accidental sampling</em>. Data primer diperoleh melalui skrining langsung menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil termasuk dalam kehamilan resiko rendah (66,7%) dan sebagian kecil dalam kehamilan resiko sangat tinggi (12,7%) . Berdasarkan karakteristiknya, sebagian besar ibu hamil memiliki umur tidak berisiko (20-35 tahun) (84,1%), pendidikan menengah (SMA) (58,7%), berstatus ibu rumah tangga (54,0%), dan memiliki paritas multigravida (71,4%). Tingkat resiko kehamilan yang paling banyak ditemukan adalah kehamilan resiko rendah, dengan karakteristik ibu hamil sebagian besar berada pada rentang umur tidak beresiko, memiliki pendidikan menengah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan berparitas multigravida.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> <strong>Karakteristik, Resiko Kehamilan, Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR)</strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p> </p> <p>Maternal Mortality Rate (AKI) and Infant Mortality Rate (AKB) in Indonesia is still quite high, with AKI reaching 4,460 per 100,000 live births and AKB reaching 34,087 in 20231. In Jepara Regency itself, 14 cases of maternal death were recorded, and AKB reached 3.2 cases per 1000 live births in 2023. One of the efforts to reduce the number is through early detection of high-risk pregnancy by using the Poedji Rochjati Score Card (KSPR)3. This research aims to find out the characteristics of pregnant women and the risk level of pregnancy using the Poedji Rochjati Score Card at the Jepara Regency Annual Health Center. This research uses a quantitative descriptive method. The study population is all pregnant women who undergo an ANC examination at the Annual Health Center in June-July 2025. The research sample consisted of 63 pregnant women taken with the accidental sampling technique. Primary data was obtained through direct screening using the Poedji Rochjati Scorecard. The results of the study showed that most pregnant women were included in low-risk pregnancies (66.7%) and a small portion in very high-risk pregnancies (12.7%). Based on their characteristics, most pregnant women were of non-risk age (20-35 years) (84.1%), had secondary education (high school) (58.7%), were housewives (54.0%), and had multigravida parity (71.4%). The most common level of pregnancy risk found was low-risk pregnancy, with the characteristics of most pregnant women being in the non-risk age range, having secondary education, working as housewives, and having multigravida parity.</p> <p> </p> <p><strong>Keywords :</strong> <strong>Characteristics, Pregnancy Risk, Poedji Rochjati Scorecard (KSPR)</strong></p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hikmah Journal of Healthhttps://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/article/view/49KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGALAMI KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK) DI PUSKESMAS NALUMSARI JEPARA2026-03-04T08:52:16+07:00Yuni Nor'ainiyunigandy@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2024, prevalensi Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada kehamilan secara global mencapai 35–37%, dengan angka tertinggi pada trimester III. Sekitar 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan KEK akibat status gizi yang tidak adekuat. KEK merupakan faktor risiko yang dapat menimbulkan komplikasi pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas, seperti bayi berat lahir rendah (BBLR), persalinan prematur, dan anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu hamil yang mengalami KEK di Puskesmas Nalumsari Jepara periode Juni–Agustus 2025. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan retrospektif melalui data sekunder dari Buku Register Poli Gizi. Populasi dan sampel berjumlah 59 responden dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada usia reproduktif (79,7%), primigravida (50,8%), berpendidikan menengah (69,5%), dan bekerja (50,8%). Disimpulkan bahwa karakteristik dominan ibu hamil dengan KEK meliputi usia reproduktif, primigravida, pendidikan menengah, dan status bekerja. Tenaga kesehatan diharapkan mengoptimalkan edukasi gizi guna mencegah dampak lanjutan KEK.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> <strong>Karakteristik, Ibu Hamil, Kekurangan Energi Kronis (KEK).</strong></p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>According to the World Health Organization (WHO) 2024 report, the global prevalence of Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnancy ranges from 35–37%, with the highest incidence occurring in the third trimester. Approximately 40% of maternal deaths in developing countries are associated with CED due to inadequate nutritional status. CED is a significant risk factor contributing to complications during pregnancy, childbirth, and the postpartum period, including low birth weight (LBW), preterm delivery, and maternal anemia. This study aimed to identify the characteristics of pregnant women experiencing CED at Nalumsari Community Health Center, Jepara, during June–August 2025. A descriptive research design with a retrospective approach was applied using secondary data obtained from the Nutrition Clinic Register Book. The population and sample consisted of 59 respondents selected through total sampling. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distribution tables. The results showed that most respondents were of reproductive age (79.7%), primigravida (50.8%), had secondary education (69.5%), and were employed (50.8%). In conclusion, dominant characteristics of pregnant women with CED include reproductive age, primigravida status, secondary education level, and employment status. Health professionals are encouraged to strengthen nutritional education to prevent adverse maternal and neonatal outcomes.</p> <p><strong>Keywords:</strong> <strong>Characteristics, Pregnant Women, Chronic Energy Deficiency (CED)</strong></p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hikmah Journal of Healthhttps://hijoh.univ-alhikmahjepara.ac.id/index.php/hijoh/article/view/46HUBUNGAN PERSEPSI IBU NIFAS TENTANG KONTRASEPSI IUD DENGAN PEMILIHAN KONTRASEPSI DI PUSKESMAS BATEALIT KABUPATEN JEPARA2026-02-28T16:41:26+07:00Resty Prima Kartikahumairoh.kartika@gmail.comDevi Rositauaj.lppm@gmail.com<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Penggunaan kontrasepsi <em>Intra Uterine Device (IUD)</em> di Indonesia masih rendah dibandingkan metode kontrasepsi lainnya meskipun efektivitasnya tinggi. Rendahnya penggunaan IUD sering dikaitkan dengan persepsi negatif mengenai keamanan, kenyamanan, dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi ibu nifas tentang kontrasepsi IUD dengan pemilihan kontrasepsi di wilayah kerja Puskesmas Batealit Kabupaten Jepara. Metode dalam penelitian menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> dengan sampel 63 responden ibu nifas yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji <em>validitas dan reliabilitas</em>, kemudian untuk pengolahan data dengan <em>uji Chi-Square</em> pada tingkat kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu nifas memiliki persepsi negatif terhadap kontrasepsi IUD, yaitu sebanyak 35 responden (55,6%), sedangkan yang memiliki persepsi positif sebanyak 28 responden (44,4%). Dalam hal pemilihan metode kontrasepsi, sebagian besar responden memilih metode kontrasepsi bukan IUD, yaitu 61 responden (96,8%), dan hanya 2 responden (3,2%) yang memilih IUD. Hasil uji statistik menggunakan <em>Contingency Coefficient</em> menunjukkan nilai <em>p-value</em> sebesar 0,872 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi ibu nifas tentang kontrasepsi IUD dengan pemilihan kontrasepsi. Sebagian besar ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Batealit Kabupaten Jepara memiliki persepsi negatif terhadap IUD dan lebih memilih metode kontrasepsi jangka pendek. Faktor eksternal seperti dukungan suami, pengaruh keluarga, dan norma sosial diduga berperan lebih besar dalam pengambilan keputusan. Akseptor diharapkan lebih aktif dalam mencari informasi tentang berbagai metode kontrasepsi jangka Panjang dan tenaga kesehatan pro-aktif terhadap pelayanan Kesehatan..</p> <p><strong>Kata kunci: Persepsi ;Ibu Nifas; Kontrasepsi; IUD ;Pemilihan Kontrasepsi</strong></p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>Used of (IUDs) in Indonesia remains low compared than contraceptive methods despite their high effectiveness. The low uptake is often associated with negative perceptions regarding safety, comfort, and side effects. This study aim to determine the relationship between postpartum mothers’ perceptions of IUDs and contraceptive choices in working area Batealit Primary Health Center, Jepara Regency. The study used quantitative analytical design with a cross-sectional approach, with a sample of 63 postpartum mothers selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaire that had been tested for validity and reliability, then processed using the Chi-Square test at 95% confidence level. The results showed that most postpartum mothers had a negative perception of IUD, with 35 respondents (55.6%), while 28 respondents (44.4%) had a positive perception. In terms of contraceptive method selection, the majority of respondents chose non-IUD methods, totaling 61 respondents (96.8%), and only 2 respondents (3.2%) chose IUDs. Statistical testing using the Contingency Coefficient showed a p-value of 0.872 (p > 0.05), indicating that there was no significant relationship between postpartum mothers’ perceptions of IUD and their choice of contraceptive method.Most postpartum mothers in the working area of Batealit Primary Health Center, Jepara, have a negative perception of IUDs and prefer short-term contraceptive methods. External factors like husband support, family influence, and social norms suspected to play a greater role in the decision making process.</em> <em>Acceptors expected to be more active in seek information about various long-term contraceptive methods and health workers expected to be proactive in providing health services.</em></p> <p><strong><em>Key word: Perception, Postpartum Mothers, Contraception, IUD, Contraceptive Choice</em></strong></p> <p> </p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hikmah Journal of Health